AKULTURASI

Akulturasi merupakan perpaduan 2 budaya dimana kedua unsur kebudayaan bertemu dapat hidup berdampingan dan saling mengisi serta tidak menghilangkan unsur-unsur asli dari kedua kebudayaan tersebut.

Akulturasi adalah fenomena yang timbul sebagai hasil jika kelompok-kelompok manusia yang mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda bertemu dan mengadakan kontak secara langsung dan terus-menerus; yang kemudian menimbulkan perubahan dalam pola kebudayaan yang original dari salah satu kelompok atau kedua-duanya (Harsoyo).

Akulturasi adalah suatu proses sosial, yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri. Atau bisa juga di definisikan sebagai perpaduan antara kebudayaan yang berbeda yang berlangsung dengan damai dan serasi.

Klenteng Kwan Sing Bio (akulturasi china dan jawa tuban)

A

Salah satu yang paling mencolok adalah bangunan klenteng kwan sing bio. Kelenteng ini jelas merupakan bangunan akulturasi dari negeri asal agama ini dan ciri khas kota pesisir Tuban. Sebagaimana kita tahu bahwa bangunan Klenteng pada umumnya menggunakan Naga di pintu utama sebagai lambang khas sebuah kelenteng. Namun di Klenteng kwan sing bio sebagai klenteng terbesar di Asia Tennggara menggunakan lambang Kepiting di pintu utamanya.

B

Gereja Blendug ( Jawa dan Belanda )

C

Gereja Blendug yang terdapat di Semarang, Jawa Tengah ini adalah salah satu hasil bangunan akulturasi. Bangunan akulturasi yaitu bangunan yang terdapat perpaduan antara 2 budaya atau lebih. Seperti Gereja Blendug ini yang masih kental dengan bergaya Belanda.

Sebagai bangsa yang paling lama “menduduki” negeri ini, Gereja Blendug adalah salah satu bangunan tua yang menarik. Dibangun sekitar tahun 1753 oleh komunitas Belanda yang dulu menghuni kawasan ini, Gereja Blendug merupakan gereja tertua di Jawa Tengah yang masih terawat sampai sekarang. Blendug sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti kubah, mengacu pada atap yang ada di gereja ini. Bentuk atapnya yang melengkung dan berwarna merah, terasa kontras dengan dindingnya yang dicat warna putih. Empat pilar kokoh serta menara kembarnya yang khas di bagian depan juga menjadi ciri khas gereja yang kini bernama resmi GPIB Immanuel ini. Gereja Blendug telah menjadi ikon Kota Semarang dan selalu menjadi lokasi persinggahan wisatawan sejarah maupun para pecinta fotografi.

Masjid Menara Kudus ( Islam dan Hindu )

D

Pada awal mulanya, Masjid ini dinamakan sama dengan nama salah satu masjid di Palestina oleh Ja’far Sodiq (Sunan Kudus), yaitu Al- Aqsa. Beliau juga pernah menempatkan batu yang diperoleh dari Baitul Maqdis, Palestina, sebagai batu pertama pendirian masjid tersebut.

Terbesit rasa aneh dan takjub saat mengamati bangunan Menara Kudus. Arsitektur yang ditampilkannya tidak mencerminkan bangunan masjid pada umumnya. Menara Kudus memakai arsitektur bercorak Hindu Majapahit. Bangunan masjid ini merupakan bentuk akulturasi budaya antara unsur Hindu dan Islam.

Pertimbangan memadukan unsur–unsur budaya lama dengan budaya baru dalam arsitektur Islam merupakan wujud adanya akulturasi dalam Islam, khususnya di Jawa. Menara Kudus merupakan salah satu pembauran Kebudayaan Hindu dengan kebudayaan Islam. Agama Islam di Jawa disebarkan dengan proses selektif tanpa kekerasan, sehingga sebagian nilai-nilai lama masih ada tetap diterima untuk dikembangkan.

Kebudayaan hindu telah tertanam dengan erat dalam masyarakat sekitar. Ajaran agama Islam yang masuk tanpa kekerasan sifatnya terbuka terhadap unsur-unsur kebudayaan lama, yang ada sebelum Islam masuk. Karena itulah wujud arsitektur Islam, khususnya arsitektur masjid di Indonesia, banyak dipengaruhi oleh faktor sejarah, latar belakang kebudayaan daerah, faktor lingkungan serta adat istiadat masyarakat setempat.

Masjid Agung Palembang ( Eropa, China Dan Islam )

E

Palembang tak hanya terkenal dengan pempek atau kain songketnya. Kota di tepian Sungai Musi ini juga dihiasi bangunan dengan arsitektur mengagumkan seperti terlihat di Mesjid Agung Palembang.

Berlokasi tak jauh dari Plaza Benteng Kuto Besak, di Kota Palembang, Sumatera Selatan, Mesjid Agung Palembang mulai dibangun ketika Palembang dipimpin oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo, tepatnya tahun 1738. Pada zamannya, mesjid ini dipercaya sebagai salah satu rumah ibadah terbesar yang pernah ada.

Meski digarap oleh seorang arsitek Eropa, pengaruh Cina ikut muncul pada wajah mesjid ini. Hal itu ditandai oleh bentukan limas dan hiasan ornamen khas Cina pada sejumlah atapnya. Paduan dua budaya ini menjadi ciri khas Mesjid Agung Palembang dan membuat banyak pelancong terkagum-kagum. Sebuah akulturasi budaya yang bisa tetap berdampingan dan saling mengisi.

Published in: on 6 Desember 2012 at 11:29 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

GAYA ARSITEKTUR MASJID AGUNG JAWA TENGAH

GAYA ARAB/TIMUR

colocium

MINARET

PAYUNG

GAYA JAWA/LOCAL

KUBAH

TIANG SOKO

GAYA YUNANI/LUAR

COLOSEUM

Published in: on 6 Desember 2012 at 11:10 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Contoh Bangunan Cagar Budaya Golongan C

MUSEUM MARITIM

Museum Bahari adalah museum yang menyimpan koleksi yang berhubungan dengan kebaharian dan kenelayanan bangsa Indonesia dari Sabangv hingga Marrauke yang berlokasi di seberang Pelabuhan Sunda Kelapa. Museum adalah salah satu dari delapan museum yang berada di bawah pengawasan dari Dinas Kebudayaan Permuseuman Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

SEJARAH

Pada masa pendudukan Belanda bangunan ini dulunya adalah gudang yang berfungsi untuk menyimpan, memilih dan mengepak hasil bumi, seperti rempah-rempah yang merupakan komoditi utama VOC yang sangat laris di pasaran Eropa. Bangunan yang berdiri persis di samping muara Ci Liung ini memiliki dua sisi, sisi barat dikenal dengan sebutan Westzijdsche Pakhuizen atau Gudang Barat (dibangun secara bertahap mulai tahun1652-1771) dan sisi timur, disebut Oostzijdsche Pakhuizen atau Gudang Timur. Gudang barat terdiri dari empat unit bangunan, dan tiga unit di antaranya yang sekarang digunakan sebagai Museum Bahari. Gedung ini awalnya digunakan untuk menyimpan barang dagangan utama VOC diNusantara, yaitu rempah, kopi, teh, tembaga, timah, dan tekstil.

Pada masa pendudukan Jepang, gedung-gedung ini dipakai sebagai tempat menyimpan barang logistik tentara Jepang. Setelah Indonesia Merdeka, bangunan ini dipakai oleh PLN dan PTT untuk gudang. Tahun 1976, bangunan cagar budaya ini dipugar kembali, dan kemudian pada 7 Juli 1977 diresmikan sebagai Museum Bahari.

KOLEKSI

Koleksi-koleksi yang disimpan terdiri atas berbagai jenis perahu tradisional dengan aneka bentuk, gaya dan ragam hias, hingga kapal zamanVOC. Selain itu ada pula berbagai model dan miniatur kapal modern dan perlengkapan penunjang kegiatan pelayaran. Juga peralatan yang digunakan oleh pelaut di masa lalu seperti alat navigasi, jangkar, teropong, model mercusuar dan meriam.

Museum Bahari juga menampilkan koleksi biota laut, data-data jenis dan sebaran ikan di perairan Indonesia dan aneka perlengkapan serta cerita dan lagu tradisional masyarakat nelayan Nusantara. Museum ini juga menampilkan matra TNI AL, koleksi Katrografi, maket Pulau Onrust, tokoh-tokoh maritim Nusantara serta perjalanan kapal KPM Batavia – Amsterdam.

http://://www.museumbahari.org/

Published in: on 16 Maret 2013 at 11:42 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Bangunan Cagar Budaya

Definisi benda cagar budaya menurut Undang-undang tentang Cagar Budaya ada dua, yaitu:

  • Benda buatan manusia yang bergerak, maupun tidak bergerak yang merupakan kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.
  • Benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan

Kriteria, Tolok Ukur, dan Penggolongan benda cagar budaya

Berdasarkan Peraturan Daerah DKI Jakarta no 9 tahun 1999 bab IV, dijabarkan tolok ukur kriteria sebuah bangunan cagar budaya adalah:

  1. Tolok ukur nilai sejarah dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa perjuangan, ketokohan, politik, sosial, budaya yang menjadi symbol nilai kesejarahan pada tingkat nasional dan atau Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
  2. Tolok ukur umur dikaitkan dengan usia sekurang-kurangnya 50 tahun.
  3. Tolok ukur keaslian dikaitkan dengan keutuhan baik sarana dan prasarana lingkungan maupun struktur, material, tapak bangunan dan bangunan di dalamnya.
  4. Tolok ukur tengeran atau landmark dikaitkan dengan keberadaaan sebuah bangunan tunggal monument atau bentang alam yang dijadikan symbol dan wakil dari suatu lingkungan sehingga merupakan tanda atau tengeran lingkungan tersebut.
  5. Tolok ukur arsitektur dikaitkan dengan estetika dan rancangan yang menggambarkan suatu zaman dan gaya tertentu

Dari kriteria dan tolok ukur di atas lingkungan cagar budaya diklasifikasikan dalam 3 golongan, yakni:

  1. Golongan I: lingkungan yang memenuhi seluruh kriteria, termasuk yang mengalami sedikit perubahan tetapi masih memiliki tingkat keaslian yang utuh.
  2. Golongan II: lingkungan yang hanya memenuhi 3 kriteria, telah mengalami perubahan namun masih memiliki beberapa unsur keaslian.
  3. Golongan III: lingkungan yang hanya memenuhi 3 kriteria, yang telah banyak perubahan dan kurang mempunyai keaslian.
Kriteria bangunan cagar budaya dalam Perda No. 19 Tahun 2009 ada 5, yaitu:
  1.  nilai sejarah;
  2.  nilai arsitektur;
  3.  nilai ilmu pengetahuan;
  4.  nilai sosial budaya;
  5.  umur
Bangunan cagar budaya sendiri dibagi dalam 3 golongan, yaitu:
  1.  Bangunan cagar budaya Golongan A (Utama) adalah bangunan cagar budaya yang memenuhi 4 (empat) kriteria.
  2.  Bangunan cagar budaya Golongan B (Madya) adalah bangunan cagar budaya yang memenuhi 3 (tiga) kriteria.
  3.  Bangunan cagar budaya Golongan C (Pratama) adalah bangunan cagar budaya yang memenuhi 2 (dua) kriteria.

Pemugaran atau alih fungsi dapat saja dilakukan asal memenuhi aturan sebagai berikut:

Pasal 22
Pemugaran bangunan cagar budaya Golongan A dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:
  • bangunan dilarang dibongkar dan/atau diubah;
  • apabila kondisi fisik bangunan buruk, roboh, terbakar atau tidak layak tegak harus dibangun kembali sama seperti semula sesuai dengan aslinya;
  • pemeliharaan dan perawatan bangunan harus menggunakan bahan yang sama/sejenis atau memiliki karakter yang sama, dengan mempertahankan detail ornamen bangunan yang telah ada;
  • dalam upaya revitalisasi dimungkinkan adanya penyesuaian/perubahan fungsi sesuai rencana kota yang berlaku tanpa mengubah bentuk bangunan aslinya;
  • di dalam persil atau lahan bangunan cagar budaya dimungkinkan adanya bangunan tambahan yang menjadi suatu kesatuan yang utuh dengan bangunan utama, dengan ketentuan penambahan bangunan hanya dapat dilakukan di belakang dan/atau di samping bangunan cagar budaya dan harus sesuai dengan arsitektur bangunan cagar budaya dalam keserasian lingkungan.
Pasal 23
Pemugaran bangunan cagar budaya Golongan B dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut :
  • bangunan dilarang dibongkar secara sengaja, dan apabila kondisi fisik bangunan buruk, roboh, terbakar atau tidak layak tegak harus dibangun kembali sama seperti semula sesuai dengan aslinya;
  • perubahan bangunan harus dilakukan tanpa mengubah karakter bangunan serta dengan mempertahankan detail dan ornamen bangunan yang penting;
  • dalam upaya rehabilitasi dan revitalisasi dimungkinkan adanya perubahan fungsi dan tata ruang dalam asalkan tidak mengubah karakter struktur utama bangunan;
  • di dalam persil atau lahan bangunan cagar budaya dimungkinkan adanya bangunan tambahan yang menjadi suatu kesatuan dengan bangunan utama.
Pasal 24
Pemugaran bangunan cagar budaya Golongan C dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut :
  • perubahan bangunan dapat dilakukan dengan tetap mempertahankan karakter utama bangunan;
  • detail ornamen dan bahan bangunan disesuaikan dengan arsitektur bangunan di sekitarnya dalam keserasian lingkungan;
  • penambahan bangunan dalam perpetakan atau persil dapat dilakukan di belakang dan/atau di samping bangunan cagar budaya dalam keserasian lingkungan;
  • fungsi bangunan dapat diubah sesuai dengan rencana kota.
Namun, menurut UU No.5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya serta SK Gubernur Nomor D/IV/6098/d/33/1975 jo Perda Nomor 9 tahun 1999 tentang pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan Bagunan Cagar Budaya.. Bangunan cagar budaya dibagi dalam empat golongan, A sampai D.
  • Bangunan Golongan A tidak boleh ditambah, diubah, dibongkar, atau dibangun baru..
  • Bangunan Golongan B, Bangunan dibagian badan utama, struktur utama, atap dan pola tampak muka tidak boleh diubah alias harus sesuai bentuk aslinya.
  • Bangunan Golongan C, bangunan boleh di ubah atau dibangun baru, tetapi dalam perubahan itu harus disesuaikan dengan pola bangunan sekitarnya.
  • Bangunan Golongan D, boleh diubah sesuai dengan keinginan pemilik, tapi harus sesuai dengan perencanaan kota.

http://www.pikiran-rakyat.com/node/131331?page=6
http://www.flobamor.com/forum/gado-gado-informasi/19983-bangunan-cagar-budaya-berubah.html
http://kencurz-by.blogspot.com/2011/04/bangunan-cagar-budaya.html

Published in: on 16 Maret 2013 at 9:08 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

METODA KRITIK TERUKUR

HAKIKAT METODA

•     Kritik Pengukuran menyatakan satu penggunaan bilangan atau angka hasil berbagai macam observasi sebagai cara menganalisa bangunan melalui hukum-hukum matematika tertentu.

•     Norma pengukuran digunakan untuk memberi arah yang lebih kuantitatif. Hal ini sebagai bentuk analogi dari ilmu pengetahuan alam.

•     Pengolahan melalui statistik atau teknik lain akan mengungkapkan informasi baru tentang objek yang terukur dan wawasan tertentu dalam studi.

•     Bilangan atau standard pengukuran secara khusus memberi norma bagaimana bangunan diperkirakan pelaksanaannya.

•     Standardisasi pengukuran dalam desain bangunan dapat berupa :

Ukuran batas minimum atau maksimum, Ukuran batas rata-rata (avarage), Kondisi-kondisi yang dikehendaki

Contoh :  Bagaimana Pemerintah daerah melalui Peraturan Tata Bangunan menjelaskan beberapa sandard normatif : Batas maksimal ketinggian bangunan,  sempadan bangunan,  Luas terbangun,  ketinggian pagar yang diijinkan

•     Adakalanya standard dalam pengukuran tidak digunakan secara eksplisit sebagai metoda kritik karena masih belum cukup memenuhi syarat kritik sebagai sebuah norma

Contoh :

Bagaimana Huxtable menjelaskan tentang kesuksesan perkawinan antara seni di dalam arsitektur dengan bisnis investasi konstruksi yang diukur melalui standardisasi harga-harga.

•     Norma atau standard yang digunakan dalam Kritik pengukuran yang bergantung pada  ukuran minimum/maksimum,  kondisi yang dikehendaki selalu  merefleksikan berbagai tujuan dari bangunan itu sendiri.

•     Tujuan dari bangunan biasanya diuraikan dalam tiga ragam petunjuk sebagai beikut: Tujuan Teknis ( Technical Goals)

Tujuan Fungsi ( Functional Goals) Tujuan Perilaku ( Behavioural Goals).

 

TUJUAN TEKNIS

1.   Stabilitas Struktur

•    Daya tahan terhadap beban struktur

•    Daya tahan terhadap benturan

•    Daya dukung terhadap beban yang melekat terhadap bahan

•    Ketepatan instalasi elemen-elemen yang di luar sistem

 2.   Ketahanan Permukaan Secara Fisik

•    Ketahanan permukaan

•    Daya tahan terhadap gores dan coretan

•    Daya serap dan penyempurnaan air

3.   Kepuasan Penampilan dan Pemeliharaan

•    Kebersihan dan ketahanan terhadap noda

•    Timbunan debu

 

TUJUAN FUNGSI

Berkait pada penampilan bangunan sebagai lingkungan

aktifitas yang khusus maka ruang harus dipenuhi melalui penyediaan suatu area yang dapat digunakan untuk aktifitas.

Pertimbangan yang diperlukan :

• Keberlangsungan fungsi dengan baik

• Aktifitas khusus yang perlu dipenuhi

• Kondisi-kondisi khusus yang harus diciptakan

• Kemudahan-kemudahan penggunaan,

• Pencapaian dan sebagainya.

 

TUJUAN PERILAKU/SIKAP

•   Bangunan tidak saja bertujuan untuk menghasilkan lingkungan yang dapat berfungsi dengan baik tetapi juga lebih kepada dampak bangunan terhadap individu dan Kognisi mental yang diterima oleh setiap orang terhadap

kualitas bentuk fisik bangunan. Behaviour Follow Form

•   Lozar (1974), Measurement Techniques Towards a Measurement Technology in Carson, Daniel,(ed) “Man- Environment Interaction-5” Environmental Design Research Association, menganjurkan sistem klasifikasi ragam elemen perilaku dalam tiga kategori yang relevan untuk dapat memandang kritik sebagai respon yang dituju :

Persepsi Visual Lingkungan Fisik

•   Menunjuk pada persepsi visual aspek-aspek bentuk bangunan. Bahwa bentuk-bentuk visual tertentu akan berimplikasi pada kategori-kategori penggunaan tertentu.

Sikap umum terhadap aspek lingkungan fisik

•   Hal ini mengarah pada persetujuan atau penolakan rasa seseorang terhadap berbagai ragam objek atau situasi

•   Hal ini dapat dipandang sebagai dasar untuk mengevaluasi variasi penerimaan atau penolakan lingkungan lain terhadap keberadaan bangunan yang baru.

Perilaku yang secara jelas dapat diobservasi secara langsung dari perilaku manusia.

•   Dalam skala luas definisi ini berdampak pada terbentuknya pola-pola tertentu (pattern) seperti : Pola pergerakan, jalur-jalur sirkulasi, kelompok-kelompok sosial dsb.

•   Dalam skala kecil menunjuk pada faktor-faktor manusia terhadap keberadaan furniture, mesin atau penutup permukaan.

•   Teknik pengukuran dalam evaluasi perilaku melalui survey instrumen-instrumen tentang sikap, mekanisme simulasi, teknik interview, observasi instrumen, observasi langsung, observasi rangsangan sensor.

 

 

SUMBER : KRITIK ARSITEKTUR UG

Published in: on 10 Februari 2013 at 11:32 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

METODA KRITIK NORMATIF

HAKIKAT KRITIK

•     Hakikat kritik normatif adalah adanya keyakinan (conviction) bahwa di lingkungan dunia manapun, bangunan dan wilayah perkotaan selalu dibangun melalui suatu model, pola, standard atau sandaran sebagai sebuah prinsip.

•     Melalui suatu prinsip, keberhasilan  kualitas lingkungan buatan dapat dinilai

•     Suatu norma tidak saja berupa standard fisik yang dapat dikuantifikasi tetapi juga non fisik yang kualitatif.

•     Norma juga berupa sesuatu yang tidak konkrit dan bersifat umum dan hampir tidak ada kaitannya dengan bangunan sebagai sebuah benda konstruksi.

JENIS METODA

•  Metoda Doktrin ( satu norma yang bersifat general, pernyataan prinsip yang tak terukur).

•  Metoda Sistemik ( suatu norma penyusunan elemen- elemen yang saling berkaitan untuk satu tujuan).

•  Metoda Tipikal ( suatu norma yang didasarkan pada model yang digenralisasi untuk satu kategori bangunan spesifik).

•  Metoda Terukur ( sekumpulan dugaan yang mampu mendefinisikan bangunan dengan baik secara kuantitatif).

SUMBER : KRITIK ARSITEKTUR UG

Published in: on 10 Februari 2013 at 11:23 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

METODA KRITIK INTERPRETIF

KAKIKAT METODA

•   Kritikus sebagai seorang interpreter atau pengamat yang sangat personal.

•   Bentuk kritik cenderung subjektif namun tanpa ditunggangi oleh klaim doktrin, klaim objektifitas melalui pengukuran yang terevaluasi.

•   Mempengaruhi pandangan orang lain untuk bisa memandang sebagaimana yang kita lihat.

•   Menyajikan satu perspektif baru atas satu objek atau satu cara baru memandang bangunan.

•   Melalui rasa artistiknya mempengaruhi pengamat merasakan sama sebagaimana yang ia alami.

•   Membangun satu karya “bayangan” yang independen melalui bangunan sebagaimana miliknya, ibarat sebuah kendaraan.

 

 TEKNIK KRITIK INTERPRETIVE

K R I T I K   A D V O C A T I F

•  Kritik ini tidak diposisikan sebagai bentuk penghakiman (judgement) sebagaimana yang terjadi pada Normatif Criticism.

•  Bentuk kritiknya lebih kepada sekadar anjuran yang mencoba bekerja dengan penjelasan lebih terperinci yang kadangkala juga banyak hal yang terlupakan.

•  Isi kritik tidak mengarahkan pada upaya yang memandang rendah orang lain.

•  Kritikus mencoba menyajikan satu arah topik yang dipandang perlu untuk kita perhatikan secara bersama tentang bangunan.

•  Kritikus membantu kita untuk melihat manfaat yang telah dihasilkan oleh sang arsitek melalui bangunannya dan berusaha menemukan pesona dimana kita telah mengira ia hanyalah sebuah objek yang menjemukan.

•  Dalam hukum advocatory Criticism, kritiknya tercurah terutama pada usaha mengangkat apresiasi pengamat.

K R I T I K   E V O K A T I F

•    Evoke : menimbulkan, membangkitkan.

•    Ungkapan sebagai pengganti cara kita mencintai bangunan.

•    Menggugah pemahaman intelektual kita atas makna yang dikandung bangunan.

•    Membangkitkan emosi rasa kita dalam memperlakukan bangunan.

•    Kritik evokatif tidak perlu menyajikan argumentasi rasional dalam menilai bangunan.

•    Kritik evokatif tidak dilihat dalam konteks benar atau salah tetapi makna yang terungkap dan penglaman ruang yang dirasakan.

•    Mendorong orang lain untuk turut membangkitkan emosi yang serupa sebagaimana dirasakan kritikus.

KRITIK EVOKATIF DISAMPAIKAN DALAM BNTUK :

a.  Kritik Naratif

b.  Kritik Fotografi (Intensify, Eteherial, Juxtaposition, Assosiation, Moment of Truth)

 

 

SUMBER : KRITIK ARSITEKTUR UG

Published in: on 10 Februari 2013 at 11:12 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

METODA KRITIK IMPRESSIONISTIK

HAKIKAT METODA

•   Seniman mereproduksi karyanya sendiri atau orang lain dengan konsekuensi adanya kejemuan, sedang kritik selalu berubah dan berkembang.

•   Kritik impressionis adakalanya dipandang sebagai parasit.

•   Kritik impressionis menggunakan karya seni atau bangunan sebagai dasar bagi pembentukan karya keseniannya.

•   Karya yang asli berjasa bagi kritik sebagai area eksplorasi karya-karya baru dan berbeda.

•   Kecantikan, memberi kepada penciptaan unsur yang universal dan estetik, menjadikan kritikus sebagai kreator, dan menghembuskan ribuan benda yang berbeda yang belum pernah hadir dalam benaknya, yang kemudian terukir pada patung-patung, terlukis pada panel-panel dan terbenam dalam permata-permata.

 

BENTUK METODA

•  Verbal Discourse                     : Narasi verbal puisi atau prosa

•  Caligramme                              : Paduan kata  membentuk silhouette

•  Painting                                       : Lukisan

•  Photo image                              : Imagi foto

•  Modification of Building      : Modifikasi bangunan

•  Cartoon                                       : Focus pada bagian bangunan sebagai lelucon

 

KEUNTUNGAN

•    Menggugah imaji tentang fakta menjadi lebih bermakna.

•    Dengan cepat membuat pengamat menduga-duga sesuatu yang lain lebih dari sekadar sebuah bangunan fisik.

•    Menggiring pengamat untuk lebih seksama melihat sebuah karya seni.

•    Mampu membangkitkan analisis objek yang sebelumnya tampak sulit atau sebaliknya membuat kompleks yang sebelumnya tampak sederhana.

 

KERUGIAN

•    Kritik seolah tidak berkait dengan arsitektur.

•    Interpretasi menjadi lebih luas dan masuk dalam wilayah bidang ilmu lain.

•    Pesan perbaikan dalam arsitektur tidak tampak secara langsung.

•    Menghasikan satu interpretasi yang bias tentang hakikat arsitektur.

•    Membuat lingkungan lebih terlihat dan mudah diingat

 

 

SUMBER : KRITIK ARSITEKTUR UG

Published in: on 10 Februari 2013 at 11:00 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

METODA KRITIK DESKRIPTIF

HAKIKAT METODA
Dibanding metode kritik lain descriptive criticism tampak lebih nyata (factual).

– Deskriptif mencatat fakta-fakta pengalaman seseorang terhadap bangunan atau kota

– Lebih bertujuan pada kenyataan bahwa jika kita tahu apa yang sesungguhnya suatu kejadian dan proses kejadiannya maka kita dapat lebih memahami makna bangunan.

– Lebih dipahami sebagai sebuah landasan untuk memahami bangunan melalui berbagai unsur bentuk yang ditampilkannya.

– Tidak dipandang sebagai bentuk to judge atau to interprete. Tetapi sekadar metode untuk melihat bangunan sebagaimana apa adanya dan apa yang terjadi di dalamnya.

– Lebih bertujuan pada kenyataan bahwa jika kita tahu apa yang sesungguhnya suatu kejadian dan proses kejadiannya maka kita dapat lebih memahami makna bangunan.

JENIS METODA

1. Depictive Criticism (Gambaran bangunan)

 Static Aspects (Aspek Statis)

•    Depictive cenderung tidak dipandang sebagai sebuah bentuk kritik karena ia tidak didasarkan pada pernyataan baik atau buruk sebuah bangunan

•    Sebagaimana tradisi dalam kritik kesenian yang lain, metode ini menyatakan apa yang sesungguhnya ada dan terjadi disana

•    Masyarakat cenderung memandang dunia sesuai dengan keterbatasan pengalaman masa lalunya, maka melalui perhatian yang jeli terhadap aspek tertentu bangunan dan mennceritakan kepada kita apa yang telah dilihat, kritik depictive telah menjadi satu metode penting untuk membangkitkan satu catatan pengalaman baru seseorang.

•    Kritik Depictive tidak butuh pernyataan betul atau salah karena penilaian dapat menjadi bias akibat pengalaman seseorang di masa lalunya.

•    Kritik depictive lebih mengesankan sebagai seorang editor atau reporter, yang menghindari penyempitan atau perluasan perhatian terhadap satu aspek bangunan agar terhindar dari pengertian kritikus sebagai interpreter atau advocate.

•    Depictive criticism dalam aspek static memfocuskan perhatian pada elemen-elemen bentuk (form), bahan (materials) dan permukaan (texture)

•    Penelusuran aspek static dalam Depictive criticism seringkali digunakan oleh para kritikus untuk memberi pandangan kepada pembaca agar memahami apa yang telah dilihatnya sebelum menentukan penafsiran terhadap apa yang dilihatnya kemudian.

•    Penggunaan media grafis dalam depictive critisim dapat dengan baik merekam dan mengalihkan informasi bangunan secara non verbal tanpa kekhawatiran terhadap bias.

•    Aspek static depictive criticism dapat dilakukan melalui beberapa cara survey antara lain : photografi, diagram, pengukuran dan deskripsi verbal (kata-kata).

– Dynamic Aspect (Aspek Dinamis)

Tidak seperti aspek static, aspek dinamis depictive mencoba melihat bagaimana bangunan digunakan bukan dari apa bangunan di buat.

Aspek dinamis mengkritisi bangunan melalui :

Bagaimana manusia bergerak melalui ruang-ruang sebuah bangunan?

Apa yang terjadi disana?

Pengalaman apa yang telah dihasilkan dari sebuah lingkungan fisik?

Bagaimana bangunan dipengaruhi oleh kejadian-kejadian yang ada didalamnya dan disekitarnya?.

– Process Aspect (Aspek Proses)

  •   Merupakan satu bentuk depictive criticism yang menginformasikan kepada kita tentang proses bagaimana sebab-sebab lingkungan fisik terjadi seperti itu.

  •   Kalau kritik yang lain dibentuk melalui pengkarakteristikan informasi yang datang ketika bangunan itu telah ada, maka kritik depictive (aspek proses) lebih melihat pada langkah- langkah keputusan dalam proses desain yang meliputi :

 •    Kapan bangunan itu mulai direncanakan,

•    Bagaimana perubahannya,

•    Bagaimana ia diperbaiki,

•    Bagaimana proses pembentukannya.

2. Biographical Criticism (Riwayat Hidup)

•   Kritik yang hanya mencurahkan perhatiannya pada sang artist (penciptanya), khususnya aktifitas yang telah dilakukannya.. Memahami dengan logis perkembangan sang artis sangat diperlukan untuk memisahkan perhatian kita terhadap intensitasnya pada karya- karyanya secara spesifik.

•   Sejak Renaisance telah ada sebagian perhatian pada kehidupan pribadi sang artis atau arsitek dan perhatian yang terkait dengan kejadian-kejadian dalam kehidupannya dalam memproduksi karya atau bangunan.

•   Misalnya : Bagaimana pengaruh kesukaan Frank Lyod Fright waktu remaja pada permainan Froebel Bloks (permainan lipatan kertas) terhadap karyanya? Bagaimana pengaruh karier lain Le Corbusier sebagai seorang pelukis? Bagaimana pengaruh hubungan Eero Sarinen dengan ayahnya yang juga arsitek? Informasi seperti ini memberi kita kesempatan untuk lebih memahami dan menilai bangunan-bangunan yang dirancangnya.

 3. Contextual Criticism ( Persitiwa)

•  Hal yang perlu diketahui dalam contextual criticism adalah : Informasi tentang aspek social, politik dan ekonomi pada saat bangunan di desain.

•  Tekanan-tekanan apakah yang diterima sang arsitek atau klien pada saat bangunan akan dan sedang dibangun?

SUMBER : KRITIK ARSITEKTUR UG

Published in: on 10 Februari 2013 at 10:15 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Sejarah Feng Shui

Sekedar sejarah, feng shui lahir sekitar 5000 tahun yang lalu di daratan cina. Arti feng shui dalam bahasa kita adalah angin dan air. Merupakan ilmu yang bertujuan untuk menyelaraskan yin dan yang, dua energi alam yang berlawanan.

Untuk mewujudkannya, feng shui memiliki beberapa rumus. Ahli feng shui kuno, membuat Pa Kua, yaitu diagram delapan arah mata angin, yang didalamnya terdapat angka-angka. Pa Kua menentukan arah hadap manusia, arah baik dan arah buruk.

Di Indonesia, saat ini feng shui masih dianggap resep manjur untuk mendapatkan rumah yang nyaman. Jika menginginkan hasil yang maksimal, penghitungan feng shui seharusnya dilakukan sejak memilih lahan tanah untuk lokasi rumah. Kemudian penerapannya mulai dari arah hadap rumah, peruangan, letak pintu, kamar mandi, pemilihan material, hingga furnitur pengisi interior berikut arah hadapnya.

Perkembangan Feng Shui

 

1. Sebelum dinasti Qin – Masa Pembentukan (Abad 16 – Abad 2 Sebelum Masehi).

Pada masa sebelum dinasti Qin ilmu Feng Shui dikenal dengan nama Bu Zhai, yaitu metode peramalan dengan menggunakan cangkang kura-kura untuk menilai sebuah lokasi menguntungkan atau tidak. Metode ini sama seperti dengan metode peramalan YiJing dan juga dikenal sebagai Xiang Di atau ada yang menyebutnya Xiang Zhai.

Metode utama yang dipakai pada era ini masih sederhana sekali, yaitu :

1) Mengevaluasi bentuk – bentuk tanah dataran tinggi dandataran rendah.

2) Kecukupan air disebuah lokasi tempat, serta pola aliran air.

3) Kualitas tanah, subur atau tidaknya.

4) Area lokasi dengan pusat kota.

5) Memenuhi syarat penghijauan (banyak tanaman / pohon) atau tidak.

Pakar – pakar yang ahli dalam ilmu ini waktu itu disebut dengan istilah Fang Shi, atau seseorang yang mempelajari ilmu alam danilmu metafisika.

2. Dinasti Qin dan Han – Masa Perkembangan (Abad 2 SM – Abad 2 Masehi).

Pada masa ini, ilmu Feng Shui mulai mengalami perkembangan yang mana mulai disebut dengan istilah Kan Yu.

Kan Yu adalah sebuah istilah bahwa manusia mengerti kehendak alam semesta, sehingga dimana dia tinggal dia harus menyesuaikan diri dengan lingkungan tersebut tanpa ingin melawannya dimana konsep ini terkenal dengan istilah “Tian Ren He Yi”.

Satu peristiwa penting yang bisa dicatat dalam masa ini adalah Feng Shui aliran bentuk dan aliran kompas mulai terpecah dan masing-masing mulai membentuk teorinya.

Pakar – pakar yang ahli dalam masa ini salah satunya adalah Huang Shi Gong dan Zhang Liang. Mereka juga ahli strategi militer yangmembantu berdirinya dinasti Han.

3. Dinasti Wei dan Jin – Istilah Feng Shui Dibentuk (Abad 2 – Abad 4 Masehi).

“Zang Feng De Shui, Cheng Sheng Qi” adalah perkataan yang konon ditulis oleh Guo Pu dalam bukunya yang berjudul Zang Shu. Guo Pu adalah seorang ilmuwan Taoisme yang juga seorang sastrawan tersohor waktu itu.

Sedangkan kitab Zang Shu membahas mengenai bagaimana seseorang yang telah meninggal seyogyanya dimakamkan menurut kaidah-kaidah Feng Shui agar memberikan kemakmuran bagi anak-cucunya. Konsep utama dari kitab Zang Shu rupanya telah mengilhami banyak para pakar Feng Shui di masa-masa berikutnya.

4. Dinasti Sui, Tang, dan 5 dinasti – Penyebaran Ilmu Feng ShuiDi Seluruh Wilayah Tiongkok

(Abad 4 – Abad 9 Masehi).

Pada masa ini ilmu Feng Shui telah mengalami banyak kemajuan dibanding dengan masa sebelumnya,

karena :

1) Sistim kerajaan berupa Meritokrasi, yaitu siapa yang memiliki jasa akan dipromosikan oleh kerajaan, sehingga sistim ujian kenegaraan telah memiliki peranan yang sangat penting dan dalam ujian tersebut sudah tentu menyangkut ilmu alam termasuk Feng Shui yang kita kenal saat ini.

2) Yang Yun Song, seorang pustakawan dinasti Tang telah memformalisasikan aliran bentuk dengan istilah Xing Shi Pai atau ada yang menyebut aliran ini Jiangsi Pai.

3) Terciptanya konsep dasar Feng Shui, yang disebut dengan Huang Di Zhai Jing

Pakar – pakar yang ahli dalam masa ini cukup banyak, antara lain :

Qiu Yan Han, Si Ma Tou Tuo, Yang Yun Song, Ceng Qiu Ji, Ceng Wen Chan, Liao Yu, Huang Miau Ying dan masih banyak lagi lainnya.

5. Dinasti Song – Masa Keemasan Feng Shui (Abad 9 – Abad 12 Masehi).

Ada 3 peristiwa penting yang bisa diambil pada masa ini, yaitu :

1) Perbedaan antara Feng Shui aliran bentuk dan aliran kompas menjadi begitu nyata.

2) Penggunaan kompas Feng Shui, yang kita sebut dengan Luo Pan mulai umum.

3) Aliran kompas menjadi semakin populer daripada aliran bentuk, dan pada masa ini telah tercatat lebih dari 120 macam aliran Feng Shui kompas.

Pakar – pakar yang ahli dalam masa ini antara lain :

Chen Xi Yi, Wu Jing Luan, Liao Jin Jing, Lai Wen Jun, dan masih banyak lagi lainnya.

6. Dinasti Yuan – Masa Kehilangan Ilmu Feng Shui (Abad 12 – Abad 13 Masehi).

Ini adalah masa yang paling suram bagi ilmu Feng Shui, mengapa ? Karena pada masa ini, raja-raja dinasti Yuan adalah orang-orang Mongolia (bangsa asing) yang mana mereka menjajah Tiongkok dengan berusaha menekan kebudayaannya agar tidak dapat berkembang.

Dalam dinasti ini banyak sekali buku-buku Feng Shuiyang dibakar, sehingga kehilangan jejak selama hampir 100 tahun. Tidak ada satu pakar-pun yang tercatat pada masa ini.

7. Dinasti Ming dan Qing – Ilmu Feng Shui Dipelajari Oleh Orang Awam

(Abad 13 – 19 Masehi).

Setelah dinasti Yuan digulingkan dan berdirinya dinasti Ming, ilm uFeng Shui sudah mulai berkembang lagi, akan tetapi ilmu ini sudah dipelajari oleh banyak orang awam dan tidak terbatas pada kaum cendekiawan kerajaan saja.

Pada masa ini ada beberapa peristiwa penting yang bisa dicatat :

1) Konsep San Yuan Jiu Yun (3 era 9 periode) mulai diperkenalkan.

2) Pembedaan antara aliran San He dan aliran San Yuan semakin jelas.

3) Teori-teori dan aliran Feng Shui semakin banyak yang berlawanan, membingungkan dan saling menjatuhkan.

4) Karena kehilangan masa 100 tahun dijajah oleh orang Mongolia, banyak aliran yang membawa kembali ideologi Feng Shui dinasti Song dan Tang tanpa latar belakang yang jelas dan saling berlawanan.

5) Pada dinasti Qing, Feng Shui bintang terbang menjadi semakin populer.

Pakar-pakar yang ada pada masa ini cukup banyak, antara lain :

Liu Bo Wen, Leng Qian, Mu Jiang Chan Shi, Jiang Da Hong, Zhang Jiu Yi, Jiang Yao, Zhang Zhong Shan, Wen Ming Yuan, Ma Tai Qing, Shen Zhu Reng, Zhang Xin Yan, dan banyak lagi lainnya.

8. Berdirinya RRC – Ilmu Feng Shui dipelajari Di Seluruh Dunia (Abad 19 – Sekarang).

Setelah berdirinya RRC, Feng Shui mulanya dianggap sebagai ilmu takhayul dan membodohkan rakyat sehingga praktek-praktek ini mulanya dilarang oleh negara selama 50 tahun lebih dan hanya dipraktekkan di negara Hong Kong, Taiwan, dan negara-negara Asia Tenggara. Karena pemerintah RRC saat ini masih bersikap skeptis terhadap ilmu ini (tidak dilarang maupun didukung), sedangkan para perantauan Tionghoa sudah menyebar luas di seluruh dunia, maka keadaan di luar negeri tenang-tenang saja dan dapat menyebarkan ilmu ini secara bebas.

Sebagian dari mereka bertujuan untuk meneruskan kebudayaan dan tradisi, sedangkan sebagian yang lain bermaksud komersialisasi, sehingga dengan kemajuan teknologi informasi dan transportasi saat ini menyebabkan ilmu ini banyak mengundang peminat dari seluruh dunia tanpa batasan.

 

Sumber :

http://blackarsitek.blogspot.com

Published in: on 17 Desember 2012 at 6:13 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Arti Feng Shui

Feng Shui adalah sebuah ilmu metafisika-arsitektur dalam aspek mikro dan merupakan ilmu metafisika-topografi yang menentukan keberuntungan sebuah kota ataupun negara berdasar dalam aspek makro yang sudah berkembang sejak lebih dari 1000 tahun yang lalu di Tiongkok.

Ini merupakan sebuah ilmu statistik yang mengamati perubahan kehidupan dan perilaku manusia ketika seseorang menghuni sebuah rumah atau wilayah dengan ciri khas tertentu. Menurut cerita literatur klasik, dahulu ilmu ini hanya berkembang di kalangan kerajaan saja, lambat laun karena perubahan jaman mulai berkembang pada rakyat biasa dan menjadi sebuah kebudayaan bagi bangsa Tiongkok yang unik dalam seni metafisika-arsitektur.

Feng Shui merupakan salah satu Ilmu tentang tata bangunan yang menyarankan manusia dan alam hidup harmonis dan sejalan. Pengrusakan dan bencana akan terjadi bila tidak ada keselarasan.

Dasar ilmu Feng Shui diterapkan melalui pemahan tentang teori Yin dan Yang yang mana teori Yin dan Yang menjelaskan tentang hakekat keseimbangan serta ketergantungan antara satu dengan yang lain serta aplikasi yang dijelaskan melalui media warna hitam, putih yang saling mempegaruhi.

 Hal-hal yang dipelajari dalam ilmu ini adalah sebuah lingkungan di mana seseorang tersebut tinggal. Lingkungan ini adalah gunung, lembah, sungai, air, bentuk dan warna tanah serta arah mata angin. Mengapa ? Karena dimana lingkungan manusia itu tinggal, maka di situlah akan terdapat sebuah medan energi yang disebut dengan Qi (dibaca: Chi) yang akan mempengaruhi kehidupan seseorang.

Dalam pengalaman ketika mengaudit feng shui rumah seseorang, sering kali menemukan rumah-rumah yang memiliki karakteristik feng shui yang lemah, sehingga seringkali menimbulkan permasalahan rumah tangga maupun masalah keuangan seseorang tanpa mereka sadari.

 Mungkin pemilik rumah ini tidak menyadari bahwa terdapat kaidah umum yang harus diketahui sebelum membeli ataupun membangun sebuah rumah berdasar pedoman Feng Shui. Dan sayangnya, persitiwa seperti ini tidak banyak yang bisa dilakukan kecuali pindah ke rumah baru. Oleh karena itu, dalam kasus-kasus tersebut yang bisa dilakukan hanyalah melakukan sedikit perubahan seperti : merubah letak pintu utama, merubah posisi ranjang (masterbed) maupun pindah ke ruangan yang lain, merubah posisi kompor, sampai menggunakan beberapa produk fengshui yang sekiranya cukup membantu.

Sumber :

http://blackarsitek.blogspot.com

Published in: on 17 Desember 2012 at 6:07 am  Tinggalkan sebuah Komentar